Meluruskan Esensi Takziah: Menghibur yang Berduka, Bukan Menambah Beban

Kematian adalah salah satu pengingat terbaik tentang hakikat kehidupan yang fana. Di banyak perkampungan di Indonesia, momen duka ini dulunya menjadi simbol puncak gotong royong dan ketulusan antarwarga. Namun belakangan ini, pergeseran budaya secara perlahan tapi pasti telah mengubah esensi sakral takziah menjadi sebuah rutinitas sosial tanpa kesadaran yang sangat memberatkan. Tradisi mewajibkan penyediaan kopi, rokok, hingga borongan jasa mengaji dengan tarif tertentu per kepala kini berubah menjadi momok menakutkan bagi keluarga yang sedang berduka—khususnya bagi mereka yang kurang mampu.

Kematian adalah salah satu pengingat terbaik tentang hakikat kehidupan yang fana...

Ilustrasi Takziah dan Kebersamaan Ilustrasi: Kebersamaan dan ketulusan dalam bingkai spiritualitas.

Pandangan Tegas Ulama Klasik dan Nusantara

Ironisnya, praktik-praktik yang memberatkan keluarga duka ini sering kali dilabeli sebagai kewajiban agama oleh oknum tertentu yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat awam. Padahal, jika kita membuka kembali lembaran kitab fikih standar yang menjadi rujukan umat Islam di Indonesia, para ulama besar terdahulu justru menentang keras tradisi semacam ini.

"Hakikat takziah adalah meringankan kesedihan orang lain dengan mengantarkan makanan bagi mereka, bukan justru menuntut suguhan kopi dan rokok dari saku keluarga yang tengah hancur hatinya."

Ketika Rumah Duka Menjadi Panggung "Kasta"

Ketika tuntunan suci para ulama di atas disembunyikan oleh oknum tokoh agama lokal demi menjaga keuntungan materi, maka lahirlah fenomena menyedihkan: kematian yang terkasta.

Kita tentu sering menyaksikan ketimpangan yang nyata di lapangan. Ketika orang kaya meninggal dunia, rumahnya sesak dipenuhi pelayat. Tenda berdiri megah, kursi tersusun rapi, dan rombongan pengaji datang berbondong-bondong karena ada jaminan "amplop" tebal, kopi terbaik, serta rokok bermerek yang melimpah. Tempat duka berubah menjadi tempat nongkrong yang nyaman dengan dalih ibadah.

Sebaliknya, mari tatap rumah duka si miskin. Ketika mereka yang tak punya harta menghadap Sang Khalik, rumahnya mendadak sepi sunyi. Warga enggan berlama-lama, ronda malam terasa garing, bahkan rombongan pengaji enggan datang karena tahu tidak ada tarif materi yang bisa mereka bawa pulang. Keluarga yang miskin tidak hanya remuk redam karena kehilangan anggota keluarga, tetapi juga harus menanggung rasa malu dan terhina karena dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya hanya karena tidak mampu menyediakan suguhan. Di titik inilah, nurani sebuah kampung sebenarnya telah mati.

Menjual Jasa Doa: Sebuah Ironi Keagamaan

Hal yang tidak kalah miris adalah suburnya praktik borongan ngaji bertarif per kepala. Doa, yang seharusnya menjadi jembatan spiritual yang tulus antara hamba dengan Penciptanya, kini mengalami komersialisasi. Masyarakat awam sengaja dibuat ketakutan dan merasa tidak percaya diri dengan doanya sendiri, sehingga merasa wajib "membeli" pahala bacaan dari orang lain demi kesalehan instan. Padahal, sejuta bacaan yang dibeli dengan tarif materi tidak akan pernah bisa menandingi ketulusan untaian doa dari bibir seorang anak kandung yang mengalir bersama air mata keikhlasan, meskipun bacaannya terbata-bata.

Memutus Rantai Kebiasaan Tanpa Kesadaran

Kita tidak bisa membiarkan normalisasi keburukan ini terus berjalan atas nama adat. Harus ada keberanian untuk memutus lingkaran setan ini melalui langkah-langkah nyata:

  • Untuk Pengurus Lingkungan (RT/RW): Sudah saatnya membuat aturan tertulis atau kesepakatan bersama. Batasi atau larang penyediaan rokok dan hidangan berat dari keluarga duka. Hidupkan kas kematian RT/RW secara mandiri untuk menanggung seluruh biaya dasar jenazah agar warga miskin terlindungi.
  • Untuk Kita Sebagai Pelayat: Ubah cara bersikap. Jika melayat ke tetangga yang kurang mampu, bawalah kopi, gula, atau kebutuhan dapur dari rumah kita sendiri. Serahkan ke dapur mereka sembari berpesan, "Ini untuk kami yang berjaga nanti malam, tolong jangan repot-repot menyediakan apa pun lagi."
  • Prioritaskan Kehadiran: Buat keputusan tegas di dalam hati: semenjana dan semiskin apa pun tetangga kita yang meninggal, hadirlah di barisan paling depan untuk menemani dan membantunya dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan kopi maupun rokok.

Kematian adalah pengingat bahwa semua manusia akan kembali dalam kondisi sebatang kara, hanya berbalut kain kafan putih yang sama. Sungguh tidak etis jika di dunia yang sementara ini, kita masih mengotori momen kepulangan tersebut dengan ego, gengsi sosial, dan ketamakan materi. Mari kembalikan fungsi takziah pada khitahnya: menghibur yang berduka, meringankan yang kesusahan, dan membumikan kembali rasa kemানুsiaan yang murni.

Mari Berbagi Kebaikan: Tulisan ini dibuat sebagai bahan renungan bersama demi mengembalikan esensi gotong royong yang murni. Diperkenankan untuk menyebarluaskan artikel ini tanpa mengubah esensi nasihat di dalamnya.

Posting Komentar

0 Komentar