Menyusuri Wisata Religi Pulo Cangkir Kronjo: Jejak Sejarah Pangeran Jaga Lautan

Wisata Religi Pulo Cangkir Kronjo Tangerang Banten

Pesisir utara daratan Banten tidak pernah kehabisan cerita tentang pesona bahari yang berpadu mesra dengan wisata religi. Setelah sebelumnya kita mengulas tuntas tentang eksotisme Pelabuhan Karangantu di Serang, kini kita bergeser sedikit ke arah timur menuju perbatasan wilayah Tangerang, tepatnya di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo. Di sana, terdapat sebuah pulau kecil berbentuk menyerupai cangkir yang sangat tersohor di kalangan para peziarah Nusantara, yaitu Pulo Cangkir.

Pulo Cangkir (Pulau Cangkir) adalah destinasi unik seluas kurang lebih 4,5 hektare yang menyajikan keindahan panorama laut lepas sekaligus wisata sejarah religi yang sakral. Pulau yang dahulu terpisah dari daratan utama ini kini telah terhubung oleh sebuah jembatan penghubung (tanggul lintasan) yang memudahkan para pengunjung untuk berjalan kaki maupun berkendara langsung menuju ke jantung pulau. Mari kita bedah sejarah, asal-usul, dan daya tarik utama dari Pulo Cangkir Kronjo ini.

Situs Ziarah Keramat: Makam Pangeran Jaga Lautan

Daya tarik utama dan magnet terbesar yang membuat Pulo Cangkir selalu ramai dipadati oleh ribuan pengunjung setiap akhir pekan atau hari besar Islam adalah keberadaan makam keramat di tengah pulau. Makam tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir dari seorang ulama besar sekaligus waliyullah terkemuka peninggalan era Kesultanan Banten, yaitu Syeikh Mubarok, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat dengan gelar Pangeran Jaga Lautan.

Berdasarkan silsilah tutur dan catatan sejarah lokal, Pangeran Jaga Lautan adalah salah satu putra dari Sultan Banten pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin (atau cucu dari Sunan Gunung Jati). Beliau diberikan tugas khusus oleh pihak kesultanan untuk menyebarkan syiar agama Islam di wilayah pesisir utara sekaligus menjaga wilayah perairan laut Banten dari ancaman bajak laut maupun armada asing yang ingin mengacaukan stabilitas kerajaan.

Gelar "Jaga Lautan" disematkan kepada beliau karena keteguhan, keberanian, serta karomahnya dalam menjaga keamanan jalur maritim Nusantara. Kini, kompleks pemakaman beliau di dalam Pulo Cangkir menjadi salah satu poros utama wisata ziarah di wilayah Banten selain kompleks Masjid Agung Banten Lama.

Keindahan Bahari dan Kehidupan Nelayan Tradisional

Beserta kental dengan nuansa spiritual, Pulo Cangkir juga menawarkan pesona wisata bahari yang menenangkan hati. Berjalan mengelilingi pulau ini akan memanjakan mata Anda dengan pemandangan hutan bakau (mangrove) yang rimbun, embusan angin laut yang sepoi-sepoi, serta pemandangan hamparan perahu-perahu nelayan tradisional yang berwarna-warni bersandar di sepanjang pantai.

Kawasan di sekitar jembatan masuk Pulo Cangkir juga merupakan sentra aktivitas ekonomi nelayan pesisir. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan atau pengeringan ikan asin tradisional, berbelanja rupa-rupa hidangan laut (seafood) mentah yang masih sangat segar, atau sekadar mencicipi kuliner ikan bakar khas pesisir Kronjo di warung-warung makan apung milik warga setempat dengan harga yang sangat ramah di kantong.

Akses Rute Mudah dari Arah Pontang Serang

Bagi dulur-dulur perangkat desa atau warga yang berdomisili di daerah Pontang atau Tirtayasa, bepergian menuju Pulo Cangkir Kronjo terbilang sangat dekat dan cepat karena letak geografis Kronjo bertetangga langsung dengan wilayah Kabupaten Serang bagian utara.

Anda cukup berkendara menyusuri jalur darat pesisir utara (Jalur Pantura Banten) melewati Tirtayasa menuju ke arah timur (arah Tangerang). Jaraknya hanya berkisar antara 22 sampai 25 kilometer saja dengan waktu tempuh berkendara santai sekitar 35 hingga 40 menit menggunakan sepeda motor maupun mobil. Akses jalannya sudah beraspal rapi dan sangat mudah dilalui.

Sementara bagi masyarakat yang datang dari arah pusat kota Serang atau Ciceri, Anda bisa mengambil jalur melalui perempatan Ciruas, lalu lurus ke arah utara melewati Pontang dan menyusuri jalur pesisir utara yang sama menuju Kecamatan Kronjo dengan total waktu perjalanan sekitar 50 sampai 60 menit.

Apakah Anda sudah pernah berziarah ke Makam Pangeran Jaga Lautan atau menikmati keliling naik perahu wisata di Pulo Cangkir Kronjo bersama rombongan warga desa? Yuk, mari kita saling berbagi cerita dan pengalaman unik Anda di kolom komentar di bawah!

Jangan lewatkan juga ulasan sejarah cagar budaya air peninggalan Kesultanan Banten menarik lainnya dalam artikel Menelusuri Sejarah Danau Tasikardi Serang: Danau Buatan Titipan Sultan untuk Sang Ibunda.

Posting Komentar

0 Komentar