Refleksi: Perbandingan visual budaya gotong royong yang hangat di masa lalu dengan kesibukan layar gawai masyarakat modern saat ini.
Pagi hari di lingkungan tempat tinggal sering kali menyuguhkan pemandangan yang serupa. Beberapa dari kita bersiap berangkat kerja, sebagian mengantar anak ke sekolah, dan sisanya sibuk dengan urusan rumah tangga masing-masing. Di tengah ritme hidup yang serba cepat ini, ada sebuah pemandangan yang menggelitik hati. Sering kali kita melihat orang-orang duduk berkumpul di pos ronda atau teras rumah, namun suasana justru hening. Fisik mereka memang berdekatan, tetapi pandangan dan pikiran masing-masing justru asyik menyelami layar ponselnya sendiri.
Fenomena "ngumpul tapi tidak ngobrol" ini seolah menjadi wajah baru masyarakat modern. Kita sibuk menyapa orang yang jauh di media sosial, sampai lupa menyapa orang nyata yang ada di sebelah kita. Pernahkah kita merenung dan bertanya pada diri sendiri: Kapan terakhir kali kita benar-benar duduk dan mengobrol santai dengan tetangga sebelah rumah tanpa terdistraksi oleh bunyi notifikasi HP?
Menengok Kebelakang: Memori Indah Tahun 1990-an
Ingatan saya tiba-tiba melayang ke masa kecil, sekitar tahun 1998 silam. Di zaman itu, rasa kebersamaan di kampung terasa begitu kental dan murni. Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika ada salah satu tetangga yang hendak membangun atau memperbaiki rumah.
Kala itu, pemilik rumah tidak perlu menyebar undangan resmi atau woro-woro ke seluruh kampung. Cukup dengan melihat ada tumpukan pasir, batu bata, dan kerangka kayu yang mulai dinaikkan, para tetangga dengan refleks dan kepekaan yang luar biasa akan langsung datang membawa cangkul atau palu mereka sendiri. Tanpa diminta, tanpa berharap bayaran, semua tangan bergerak bersama atas dasar rasa persaudaraan.
Namun, mari kita tengok kondisinya hari ini. Sifat peka dan kesadaran tanpa pamrih itu perlahan mulai terkikis. Kini, jika ada tetangga yang membangun rumah, sebagian besar orang memilih untuk melihat dari kejauhan saja, lalu kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Budaya tolong-menolong yang tulus kini bergeser menjadi hubungan yang serba transaksional.
Tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup saat ini memang memaksa setiap orang untuk lebih fokus pada pekerjaan masing-masing. Namun, merawat kebersamaan tidak harus selalu menunggu momen formal, dan tidak harus selalu dalam skala besar seperti membangun rumah. Di luar urusan materi, ada banyak hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang justru bisa menjadi lem perekat sejati dalam bertetangga.
Langkah Sederhana Menjaga Keguyuban Tetangga
Jika kita belum bisa membantu tenaga secara penuh untuk urusan besar seperti dulu, mari kita asah kepekaan dan kepedulian melalui beberapa kebiasaan kecil di bawah ini:
Menabur Kebaikan di Halaman Sendiri
Pada akhirnya, lingkungan yang nyaman, aman, dan guyub tidak tercipta dengan sendirinya lewat aturan-aturan formal yang kaku, atau sekadar dari rutinitas berkumpul formalitas. Rasa kekeluargaan seperti tahun 1998 mungkin tidak bisa kembali 100% sama, tetapi nilai dasarnya bisa kita hidupkan kembali lewat kumpulan kepedulian kecil yang konsisten kita lakukan setiap hari.
Mari kita mulai dari hal yang paling mudah setelah membaca tulisan ini: taruh ponsel sejenak, berikan senyuman tulus, dan buka obrolan hangat dengan tetangga pertama yang kita temui di depan rumah nanti sore. Karena bagaimanapun juga, tetangga adalah keluarga terdekat kita saat berada di luar rumah.
Ruang Guyub Warga: Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga merindukan suasana keguyuban tulus tanpa sekat gawai seperti di tahun 90-an dulu? Ceritakan yuk memori, kebiasaan, atau tradisi gotong royong paling berkesan yang pernah Anda alami di lingkungan tempat tinggal Anda pada kolom komentar di bawah agar kita bisa saling berbagi inspirasi positif!
0 Komentar
Sampaikan tanggapan, pertanyaan, atau pengalaman Anda secara bijak dan sopan.