Ilustrasi: Penghargaan terbesar seorang perangkat desa tidak berwujud angka di atas kertas, melainkan ketulusan senyum dan kebahagiaan warga.
Bagi sebagian orang, menjadi perangkat desa mungkin terlihat sebagai posisi yang mapan dan dihormati di tengah masyarakat. Berangkat ke kantor dengan seragam rapi, menghadiri rapat-rapat penting, dan menjadi rujukan warga saat mengurus administrasi. Namun, di balik status sosial tersebut, ada realita finansial yang sering kali membuat dahi berkerut jika dihitung di atas kertas kalkulator.
Jika ditanya jujur, nominal gaji atau penghasilan tetap (siltap) seorang perangkat desa sering kali jauh dari kata mewah. Di banyak daerah, jumlahnya hanya setara atau bahkan di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK). Nilai yang jika diadu dengan biaya hidup, cicilan, dan kebutuhan sekolah anak zaman sekarang, dipastikan harus membuat kami memutar otak dan ekstra hemat setiap bulannya.
Uang bisa habis dalam hitungan hari setelah gajian, tetapi ada satu bentuk "mata uang" lain yang nilainya tidak pernah inflasi di desa, yaitu rasa hormat, kedamaian, dan ucapan terima kasih yang tulus dari warga.
Bentuk Penghargaan Nyata di Luar Slip Gaji
Berikut adalah beberapa momen berharga yang membuat dedikasi seorang pamong desa tetap menyala seutuhnya:
Tentu saja, kami tetaplah manusia biasa yang memiliki kebutuhan hidup. Namun, keterbatasan yang ada justru melatih kami untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan kreatif dalam mencari rezeki tambahan di luar jam kerja, entah itu bertani, berkebun, atau membuka usaha kecil-kecilan di rumah bersama keluarga.
Pada akhirnya, rumah tegak karena tiangnya, dan desa hidup karena pengabdiannya. Selama ketukan pintu warga masih membawa kebaikan, selama itulah dedikasi ini tidak akan pernah padam.
0 Komentar
Sampaikan tanggapan, pertanyaan, atau pengalaman Anda secara bijak dan sopan.