Ilustrasi: Rumah adalah tempat terbaik untuk pulang setelah seharian mengabdi di ruang publik.
Menjadi seorang pelayan masyarakat di tingkat desa memiliki dinamika yang jauh berbeda dengan aparatur di perkotaan atau instansi tinggi. Bagi kami yang berada di garda terdepan, jam kerja formal di atas kertas hanyalah formalitas. Realitanya, ruang berinteraksi dengan warga tidak pernah dibatasi oleh jarum jam.
Sudah menjadi "makanan sehari-hari" ketika jam kantor sudah habis dan pintu rumah baru saja dikunci, ketukan pintu atau dering telepon mendadak muncul. Ragamnya pun bukan lagi soal surat-menyurat administratif, melainkan urusan kemanusiaan yang mendesak: mengantar warga yang kritis ke rumah sakit di tengah malam, atau menjadi mediator konflik antarwarga yang tensinya memanas dan tidak mungkin ditunda hingga esok pagi.
"Kasus-kasus semacam itu tidak mengenal waktu. Dan di titik itulah, peran saya diuji. Ketika melangkah keluar rumah di waktu istirahat, saya menanamkan satu prinsip di kepala: ini adalah bentuk pengabdian saya langsung kepada warga, bukan lagi sekadar gugur kewajiban kepada pemerintah. Seragam mungkin libur, tapi panggilan kemanusiaan tidak pernah mengenal kata libur."
Namun, di balik kesiapan saya berdiri untuk warga, ada harga yang harus dibayar: waktu bersama keluarga yang sering kali terpotong secara mendadak. Menjaga keseimbangan di antara dua dunia ini adalah seni yang terus saya pelajari setiap hari melalui beberapa prinsip ini:
1. Kehadiran yang Berkualitas (Quality Time)
Karena kuantitas waktu saya di rumah sering kali terenggut oleh urusan darurat warga, saya harus mengejar kualitas. Saat berada di rumah, saya berusaha hadir seutuhnya. Melepas penat pekerjaan, mendengarkan cerita anak tentang sekolahnya, atau sekadar minum teh bersama istri tanpa terus-menerus menatap layar handphone adalah kemewahan yang selalu saya usahakan.
2. Membuka Ruang Pengertian bersama Keluarga
Keluarga adalah sistem pendukung terbesar saya. Saya selalu berbagi cerita dengan istri dan anak-anak tentang apa yang saya hadapi di lapangan. Ketika mereka paham bahwa ayahnya pergi malam-malam bukan karena menomorduakan mereka, melainkan karena ada nyawa warga yang harus ditolong atau kedamaian kampung yang harus diperjuangkan, rasa maklum di rumah berubah menjadi doa dan dukungan.
0 Komentar